MISA REQUIEM
MGR. ISHAK DOERA, PR
RITAPIRET, 23 MEI 2012
“Ia tidak dapat pergi begitu saja tanpa berbuat apa-apa
untuk seminari ini dan tanah Sikka yang telah turut membesarkannya; ia ingin
melakukannya dengan raganya, dengan kematiannya, dengan hal terakhir yang masih
bisa dilakukannya sebagai manusia. Ia akhirnya dimakamkan di seminari ini, di
tanah Sikka ini.”
Yang kami kasihi, Mgr Ishak Doera, Yang kami hormati Uskup Maumere dan para
uskup yang sempat hadir, romo preses Seminari Tinggi Ritapiret, para pimpinan
biara dan seminari tinggi, para pastor, biarawan biarawati dan tokoh umat serta
sidang duka yang kami muliakan.
Hari ini kita menghantar saudara kekasih kita, Mgr. Ishak
Doera ke tempat istirahatnya yang terakhir, di lingkungan seminari tinggi
Ritapiret ini. Kita semua
bersedih, kita semua berduka karena ditinggal pergi seorang gembala. Atas nama
pribadi dan keluarga, juga atas nama pemerintah daerah Kabupaten Sikka dan
seluruh masyarakat saya menyampaikan rasa belasungkawa dan turut berduka cita.
Kepada segenap anggota keluarga dari Jopu-Lio, seluruh umat Keuskupan Sintang
dan keluarga besar Seminari Tinggi Ritapiret kami memohonkan penghiburan dan
keteguhan hati menerima kenyataan ini.
Saudara-saudara yang terhomat, sidang perkabungan yang
kami muliakan.
Beliau lahir di Ende,
bekerja lebih lama di Kalimantan dan meninggal dunia di Jakarta, tetapi
terakhir beliau diistirahatkan di Ritapiret, di nian tanah Sikka ini. Kenyataan ini tampaknya hendak menyampaikan pesan khusus
kepada kita. Ada yang istimewa dengan hidup beliau, yang tampaknya tidak
dibiarkannya lewat begitu saja. Kelurga besar Jopu-Ende yang melahirkan,
mengasuh dan membesarkan Mgr. Ishak nyaris tidak banyak menerima pelayanan
beliau sebagai imam maupun sebagai uskup. Demikian pula Seminari Tinggi
Ritapiret dan tanah Sikka yang telah turut mendidik dan memupuk perjalanan
rohaninya menjadi imam dan uskup, tidak banyak mendapat pelayanan beliau. Tapi di saat terakhir ini, beliau dimakamkan di sini, di
antara kita semua. Izinkan kami menafsirkannya dari perspektif iman kita...
bahwa Mgr. Ishak hendak memupuk iman Kristen di tanah Sikka dengan tubuhnya
sendiri yang dibaringkan di sini. Beliau rupanya mengetahui dan menyadari bahwa
iman kita orang Sikka masih goyah, harapan kita masih rapuh dan kasih kita
masih tidak seberapa. Ia tampaknya menyadari, seminari tinggi ini dan tanah
Sikka yang telah memandu jalan imannya tidak sempat mengalami dan menikmati
buah-buah imannya itu selama masa hidupnya. Ia tidak dapat pergi begitu saja
tanpa berbuat apa-apa untuk seminari ini dan tanah Sikka yang telah turut
membesarkannya; ia ingin melakukannya dengan raganya, dengan kematiannya,
dengan hal terakhir yang masih bisa dilakukannya sebagai manusia. Ia akhirnya
dimakamkan di seminari ini, di tanah Sikka ini.
Saudara-saudara yang terhomat, sidang perkabungan yang
kami muliakan.
Kematian seorang Kristen, seperti kematian Kristus Guru
kita, tidak pernah menjadi kematian yang sia-sia. Seperti kematian Kristus yang
membuahkan kebangkitan yang mulia, kita percaya, kematian Mgr. Ishak juga akan
membuahkan kebangkitan yang mulia. Kebangkitan itulah yang kita harapkan
menjadi buah dari kematian Mgr. Ishak, juga dari jenasahnya yang kita baringkan
di sini. Kalau buah-buah imannya selama hidup lebih banyak dinikmati orang
Kalimantan, kiranya kita orang Sikka, warga Seminari Tinggi Ritapiret ini tidak
akan melewatkan lagi buah-buah dari
kematiannya ini terbang ke tempat lain. Kita harus memetik buah dari
kebangkitan Mgr. Ishak yang telah dijanjikan Kristus: kematian Mgr. Ishak dan
jenasahnya yang kita makamkan di sini harus membangkitkan kembali hidup
kristiani kita: meneguhkan kembali iman kita, menegaskan lagi harapan kita dan
memurnikan kembali kasih kita satu sama lain. Di sini, di Seminari Tinggi ini,
harus tumbuh lebih banyak lagi Mgr. Ishak yang baru, bila perlu seperti pepatah
populer bilang, tumbuh seperti cendawan di musim hujan! Jenazah kaku yang kita
terima dari Jakarta, harus bangkit dan hidup lagi dalam diri para frater, para
imam dan para uskup yang lahir dan diasuh di lembaga ini. Dari seminari ini
kami berharap, jasa dan pengabdian Mgr. Ishak yang tidak sempat dinikmati
masyarakat Sikka semasa hidupnya dapat terbayarkan. Masyarakat Sikka merindukan
pelayanan gembala-gembalanya, yang kiranya memberi warna khas dan istimewa.
Kiranya kehadiran lembaga pendidikan Seminari Tinggi ini, dan juga seminari
tinggi lain dan biara-biara di tanah Sikka ini sanggup menggerakan perubahan
dan transformasi sosial dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Sikka.
Saudara-saudara yang terhomat, sidang perkabungan yang
kami muliakan.
Akhir kata, saya atas nama pemerintah dan masyarakat
Kabupaten Sikka menyampaikan terima kasih dan selamat jalan kepada Mgr. Ishak.
”Hidupmu sepenuhnya telah dibaktikan untuk masyarakat Indonesia, semoga
kematianmu tidak menjadi sia-sia bagi kami orang Sikka.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar