Senin, 01 Oktober 2012

RIP MGR. ISHAK


MISA REQUIEM
MGR. ISHAK DOERA, PR
RITAPIRET, 23 MEI 2012

“Ia tidak dapat pergi begitu saja tanpa berbuat apa-apa untuk seminari ini dan tanah Sikka yang telah turut membesarkannya; ia ingin melakukannya dengan raganya, dengan kematiannya, dengan hal terakhir yang masih bisa dilakukannya sebagai manusia. Ia akhirnya dimakamkan di seminari ini, di tanah Sikka ini.”

Yang kami kasihi, Mgr Ishak Doera,  Yang kami hormati Uskup Maumere dan para uskup yang sempat hadir, romo preses Seminari Tinggi Ritapiret, para pimpinan biara dan seminari tinggi, para pastor, biarawan biarawati dan tokoh umat serta sidang duka yang kami muliakan.
Hari ini kita menghantar saudara kekasih kita, Mgr. Ishak Doera ke tempat istirahatnya yang terakhir, di lingkungan seminari tinggi Ritapiret ini. Kita semua bersedih, kita semua berduka karena ditinggal pergi seorang gembala. Atas nama pribadi dan keluarga, juga atas nama pemerintah daerah Kabupaten Sikka dan seluruh masyarakat saya menyampaikan rasa belasungkawa dan turut berduka cita. Kepada segenap anggota keluarga dari Jopu-Lio, seluruh umat Keuskupan Sintang dan keluarga besar Seminari Tinggi Ritapiret kami memohonkan penghiburan dan keteguhan hati menerima kenyataan ini.
Saudara-saudara yang terhomat, sidang perkabungan yang kami muliakan.
Beliau lahir di Ende,  bekerja lebih lama di Kalimantan dan meninggal dunia di Jakarta, tetapi terakhir beliau diistirahatkan di Ritapiret, di nian tanah Sikka ini. Kenyataan ini tampaknya hendak menyampaikan pesan khusus kepada kita. Ada yang istimewa dengan hidup beliau, yang tampaknya tidak dibiarkannya lewat begitu saja. Kelurga besar Jopu-Ende yang melahirkan, mengasuh dan membesarkan Mgr. Ishak nyaris tidak banyak menerima pelayanan beliau sebagai imam maupun sebagai uskup. Demikian pula Seminari Tinggi Ritapiret dan tanah Sikka yang telah turut mendidik dan memupuk perjalanan rohaninya menjadi imam dan uskup, tidak banyak mendapat pelayanan beliau. Tapi di saat terakhir ini, beliau dimakamkan di sini, di antara kita semua. Izinkan kami menafsirkannya dari perspektif iman kita... bahwa Mgr. Ishak hendak memupuk iman Kristen di tanah Sikka dengan tubuhnya sendiri yang dibaringkan di sini. Beliau rupanya mengetahui dan menyadari bahwa iman kita orang Sikka masih goyah, harapan kita masih rapuh dan kasih kita masih tidak seberapa. Ia tampaknya menyadari, seminari tinggi ini dan tanah Sikka yang telah memandu jalan imannya tidak sempat mengalami dan menikmati buah-buah imannya itu selama masa hidupnya. Ia tidak dapat pergi begitu saja tanpa berbuat apa-apa untuk seminari ini dan tanah Sikka yang telah turut membesarkannya; ia ingin melakukannya dengan raganya, dengan kematiannya, dengan hal terakhir yang masih bisa dilakukannya sebagai manusia. Ia akhirnya dimakamkan di seminari ini, di tanah Sikka ini.

Saudara-saudara yang terhomat, sidang perkabungan yang kami muliakan.
Kematian seorang Kristen, seperti kematian Kristus Guru kita, tidak pernah menjadi kematian yang sia-sia. Seperti kematian Kristus yang membuahkan kebangkitan yang mulia, kita percaya, kematian Mgr. Ishak juga akan membuahkan kebangkitan yang mulia. Kebangkitan itulah yang kita harapkan menjadi buah dari kematian Mgr. Ishak, juga dari jenasahnya yang kita baringkan di sini. Kalau buah-buah imannya selama hidup lebih banyak dinikmati orang Kalimantan, kiranya kita orang Sikka, warga Seminari Tinggi Ritapiret ini tidak akan melewatkan lagi buah-buah  dari kematiannya ini terbang ke tempat lain. Kita harus memetik buah dari kebangkitan Mgr. Ishak yang telah dijanjikan Kristus: kematian Mgr. Ishak dan jenasahnya yang kita makamkan di sini harus membangkitkan kembali hidup kristiani kita: meneguhkan kembali iman kita, menegaskan lagi harapan kita dan memurnikan kembali kasih kita satu sama lain. Di sini, di Seminari Tinggi ini, harus tumbuh lebih banyak lagi Mgr. Ishak yang baru, bila perlu seperti pepatah populer bilang, tumbuh seperti cendawan di musim hujan! Jenazah kaku yang kita terima dari Jakarta, harus bangkit dan hidup lagi dalam diri para frater, para imam dan para uskup yang lahir dan diasuh di lembaga ini. Dari seminari ini kami berharap, jasa dan pengabdian Mgr. Ishak yang tidak sempat dinikmati masyarakat Sikka semasa hidupnya dapat terbayarkan. Masyarakat Sikka merindukan pelayanan gembala-gembalanya, yang kiranya memberi warna khas dan istimewa. Kiranya kehadiran lembaga pendidikan Seminari Tinggi ini, dan juga seminari tinggi lain dan biara-biara di tanah Sikka ini sanggup menggerakan perubahan dan transformasi sosial dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Sikka.
Saudara-saudara yang terhomat, sidang perkabungan yang kami muliakan.
Akhir kata, saya atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Sikka menyampaikan terima kasih dan selamat jalan kepada Mgr. Ishak. ”Hidupmu sepenuhnya telah dibaktikan untuk masyarakat Indonesia, semoga kematianmu tidak menjadi sia-sia bagi kami orang Sikka.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar