Santo
Martinus Bola. Nama yang unik sekaligus menarik. Seperti juga mungkin orangnya.
Tapi ia datang dari kampungnya hanya dengan nama Martinus, tanpa Bola di
belakangnya, apalagi Santo di depannya. Bahwa kemudian ia punya nama atau
dipanggil demikian, beginilah ceritanya.
Ia
seorang yang cerdas, baik hati dan rada religius! Baiklah kita mulai satu
persatu, demikian biasanya ia mulai bicara di depan teman-temannya, apalagi
kalau banyak cewek yang mulai mendengarnya. Pada waktu ospek ia ditanya namanya
oleh senior, dan ia hanya menjawab Martinus.
“Martinus
apa?”
“Martinus!”
jawabnya gugup.
“Iya,
Martinus apa kek, Martinus Moan Mitan, Martinus Nong Megung?”
“Nama
saya memang hanya Martinus saja.”
“Ha….,
Martinus Saja?”
“Bukan,
Martinus! Itu saja.”
“Lalu
dari mana asalmu?”
“Bola.”
“Nah,
saya beri kamu nama baru: Martinus Bola.”
Demikianlah ia menjadi Martinus
Bola, nama yang kemudian diterima begitu saja oleh semua temannya. Dia juga.
Toh tidak lazim punya nama hanya Martinus saja. Mungkin lebih baik supaya ia
cepat dikenal teman-teman barunya, Martinus dari Bola.
Kalau kemudian ada santo di
depannya, itu karena ia menampilkan dirinya sebagai orang yang baik hati,
seperti Santo Martinus. Setiap kali pulang liburan dari kampungnya ia selalu
membawa beberapa botol tuak, lalu menggelar acara minum bersama teman-temannya.
Ketupat, jagung titi, ikan kering dan lain-lainnya yang sengaja disiapkan
ibunya untuk beberapa bulan, langsung dihabiskan sebagai lépeng bersama botol-botol tuak itu. Hari-hari selanjutnya dia
makan di mana saja, makan apa adanya. Jika ia sedang punya uang, sekali-kali
janganlah ia tahu ada temannya yang kesulitan. Pastilah diberikan begitu jua
uangnya, sering pula tak ada sisa untuknya. Begitu juga kalau ada temanya yang
sedang ada masalah; kata peneguhan, nasihat dan berbagai pertimbangan yang
bijaksana ia bagikan sebagai saudara sekandung. Pokoknya nyaris tak ada yang keberatan
kalau ia digelar Santo Martinus oleh teman-temannya; sang perwira yang menyobek
jubahnya untuk orang miskin yang kedinginan.
Dan ini dia ceritanya ketika ia
memperkenalkan Sisi pacarnya kepada teman-temannya. “Pada suatu senja hari yang
dingin, di kala Santo Martinus keluar dari pintu gereja usai berdoa,
didapatinya seorang wanita yang sedang menggigil kedinginan. Timbullah iba di
hatinya melihat wanita malang
itu. Disangkanya seorang nenek renta, tak taunya seorang gadis rupawan.”
“Huuuuu…” Teriak teman-temannya.
“Maka tergeraklah hatinya oleh belas kasihan,”
lanjutnya percaya diri. “Hendak disobeknya jeket militernya untuk sang gadis malang. Dicarinya pedang
di pinggangnya, eh tak ada! Ah, tak apalah, lagi pula sayang kalau disobek bagi
dua. Maka diberikan saja jeket kebesarannya. Karena itu sang gadis terus
mengikuti Santo Martinus ke manapun ia pergi, nih sampai sekarang! Dan ini dia,
Santa …… Sisilia!”. Karuan saja teman-temanya menyoraki pasangan itu.
“Hati-hati Sisi, sekarang dia
sembunyikan pedangnya. Nanti kau ia jadikan lépeng.” Teriak Nino dari kejauhan.
“Gak salah apa, Santo Martinus
itu algojo, bukan pengkotbah”. Sambung yang lainnya.
“Tenang saudara-saudara. Kalau
soal itu mah, Santo Martinus pernah masuk seminari. Ya, sewaktu TK….”
Dan sekarang tokoh kita jadi
dua: Santo Martinus Bola dan Santa Sisilia. Juga tak banyak yang keberatan atau
mempersoalkan kedua santo dan santa itu berpacaran; dalam kelakar dan canda
ceria, ataupun dalam bisik-bisikan dan gosip para mahasiswa. Bahwa Martinus
digelar santo dalam suasana kelakar, Sisi tampaknya memang punya tampang santa!
Sebagai anak tertua dari keluarga saleh di kota Reinha Larantuka, Sisi tampil sebagai
sosok yang nyaris sempurna. Pembawaannya tenang, tutur katanya bersahaja,
perilakunya santun berkarakter tegas meski penampilan fisik dan wajahnya
biasa-biasa saja. Sebagai mahasiswa yang sibuk dengan segala urusan kuliah, ia
selalu punya waktu untuk ke Gereja atau berdoa Rosario di Komunitas Umat Basis di sekitar
kosnya. Urusan koor di Gereja dan kegiatan rohani lainnya Sisi pasti terlibat
aktif. Dan serasinya, Santo Martinus sering menemaninya. Maka nyaris tak ada
yang meragukan hubungan keduanya, di tengah lingkungan mahasiswa yang nyaris
tanpa peraturan dan kontrol orang tua.
Namun persis di situlah keduanya
jatuh berantakan! Pada suatu malam yang senyap, di bawah rintik hujan yang
mendinginkan suasana, keduanya tak kuasa mengendalikan diri lagi. Maka luluh
sudah apa yang selama ini mereka pertahankan dengan sadar, atas nama tanggung
jawab kepada orang tua masing-masing di kampung dan adik-adiknya, teman-teman
yang diam-diam mengagumi mereka dan tetangga sekitar kos yang nyaris menjadikan
mereka panutan bagi anak-anaknya sendiri.
Di kamar Sisi yang nyaris tanpa suara keduanya larut dalam hubungan dua
anak manusia yang disatukan oleh cinta, lahir batin! Tak ada yang memaksa atau
merasa terpaksa ketika cumbuan yang biasanya diselingi gelitikan dan canda
kelakar berlanjut tanpa busana. Juga tak ada penyesalan atau rasa bersalah yang
langsung menyergap kala mereka berdua turun dari puncak kenikmatan pengalaman
pertama perawan dan perjaka. Pun tak ada yang merasa takut, cemas atau perasaan
macam-macam untuk mulai saling mempersalahkan atau menyusun kata-kata
pembenaran. Keduanya larut dalam suasana lahir batin yang tak dapat
dibahasakan, seolah mereka baru saja diayubahagiakan dalam acara perkawinan
suci yang agung nan meriah.
Sisi kemudian masih juga ke
Gereja, Martinus pun tetap setia
menemaninya. Mereka masih juga melakukan hubungan itu beberapa kali, masih juga
tanpa rasa bersalah, penyesalan atau pun niat menghentikannya. Mungkin ini yang
namanya pemahaman baru dalam konsep moral orang modern, komentar Martinus suatu
saat ketika mereka membahas hubungan mereka dari hati ke hati. Sisi juga tidak
membantah atau membenarkan. Apa yang dimaksudkan dengan dosa kalau sesuatu
dilakukan dalam cinta yang tulus tanpa niat memperalat atau memanipulasinya?
Siapakah yang berani tampil sebagai hakim bagi dua orang yang saling mencintai,
selain cinta itu sendiri? Toh tidak ada keraguan, kecemasan dan penyesalan yang
mengganjal; mereka terus maju mengarungi lautan hidup masa muda yang ceria:
Santo Martinus yang murah hati dan religius, Santa Sisilia yang santun dan saleh!
Sampai suatu hari, ketika Sisi
menyadari beberapa bulan telah lewat tanpa menstruasi. Ia seakan berhenti
sejenak, menoleh ke masa silam beberapa saat bersama sang perwira yang ia
banggakan. Di kamarnya, dalam posisi duduk saling membelakangi, ia sampaikan
kabar itu kepada Martinus. Ia tak berniat mendeteksi reaksi sang pangeran, tapi
sebentuk sentakan dari nadinya dapat membahasakan perasaannya tentang kabar
itu. Lama sesudahnya tak ada yang bersuara, masing-masing diam dalam lautan
perasaanya sendiri. Kemudian Martinus memutar badan, menghadapkan wajahnya
menatap Sisi yang tetap saja tenang.
“Sudah kamu tes urinnya?”
“Belum. Baiknya besok kita ke
Puskesmas saja supaya lebih pasti.” Jawab Sisi meneliti wajah Martinus yang
hanya beberapa mili dari wajahnya, seakan minta izin menembus ke dalam matanya,
terus ke inti nuraninya.
“Baiklah. Besok saya jemput kamu
jam delapan. Saya ada kuliah jam sebelas.” Martinus mengecup kening Sisi dengan
sangat perlahan, lalu minta izin pulang.
Di Puskesmas Kota keduanya
datang selayaknya pasangan muda, tepat ketika loket pendaftaran dibuka perawat
jaga. Sekali lagi tak tampak perasaan serius yang mengganjal hati dan menerobos
sampai ke ekspresi wajah keduanya; seolah diagnosa positif atau negatif tak
akan berpengaruh apa-apa pada hari-hari hidup mereka selanjutnya sebagai orang
muda dan sebagai mahasiswa. Pun ketika perawat menyodorkan hasil tes bertanda
plus; mereka menerimanya dengan tenang tanpa mendiskusikannya sepanjang jalan
pulang. Sekali lagi, ini memang halauan moral orang modern, Martinus menegaskan
dalam hatinya.
Martinus baru tersentak bagai
tersengat lebah di jantungnya kala Sisi tidak lekas beranjak bangun saat komuni
dibagikan. Ia juga tak berusaha memaksa. Maka duduklah mereka berdua di bangku
sepanjang sisa waktu misa, buru-buru memiringkan lututnya kian kemari memberi
jalan bagi umat di sebelahnya yang bergegas maju ke altar. Ternyata beginilah
rasanya tampil beda dalam sebuah komunitas sosial yang memisahkan orang saleh
dari orang berdosa. Ia tidak seberapa terganggu dengan lirikan beberapa pasang
mata yang menyiratkan keheranan, tapi terutama pada ketenangan sosok wanita
berlagak saleh di sisinya yang tampak begitu aneh, seakan datang dari zaman
Abad Pertengahan. Ia tak sepenuhnya mengerti, mengapa Sisi masih mewarisi
kebiasaan tua yang tidak ditemukan dasar rasionalnya di zaman seperti ini. Ia
sadar sungguh kini, ia telah dihakimi oleh tradisi kolot yang diwarisi Sisi
dalam kesalehannya. Hatinya berontak, ini tidak dapat diterima! Ia merasa
diadili tanpa diberi kesempatan membela diri atau sekedar menyampaikan
pandangan moral religiusnya. Teologi macam apa yang mengajarkannya dan otoritas
Gereja mana yang bisa melarang orang menerima komuni kudus? Siapakah yang bisa
meneliti hatinya untuk dapat memvonis dirinya berdosa atas apa yang dia lakukan
dengan orang yang dicintaniya, atas nama cinta pula?
Pertanyaan-pertanyaan ini
berkecamuk di hatinya sepanjang jalan pulang, dan sebagiannya dapat ditangkap
Sisi dalam sikap diamnya yang menjengkelkan Martinus. Sampai di kosnya, ia
menarik Sisi masuk, dan dalam nada tegas ia mulai berkotbah. “Apa dengan cara
ini kau mau mengatakan pada orang-orang bahwa saya ini orang berdosa, dan tidak
pantas menerima komuni? Jawab Sisi, tatap mataku! Kau tahu, semua ini kita
lakukan dalam cinta, dan saya tak perlu mengulangi lagi bahwa saya sungguh
mencintaimu. Kau toh tidak meragukan dan mempersoalkannya. Tapi saya malu!”
“Apa itu berarti kau keberatan
dengan anak yang kukandung ini? Kau mau
menolaknya?” Tanya Sisi tenang, tanpa niat menghakiminya. “Kau mau aku
menggugurkannya?”
“Entahlah. Saya jadinya tidak
terlalu yakin lagi dengan diriku, dengan pandangan dan nilai moral religius
yang kuhidupi selama ini.” Martinus menjawab sekenanya saja. “Kalau kau merasa
yang kita lakukan ini berdosa, mungkin tidak perlu ia dipertahankan karena
hanya akan membangkitkan rasa bersalah dan dosa yang menyiksa kita sepanjang
hidupnya kelak.” Inikah pandangan moral modern yang lebih membebaskan? Ia tidak
sungguh yakin lagi seperti sebelumnya.
Mulutnya tidak secara tegas
menjawab pertanyaan Sisi, tapi sikapnya terhadap Sisi di hari-hari selanjutnya
menegaskan isi hatinya. Beberapa bulan lamanya ia tidak lagi menemani Sisi,
mengunjunginya atau sekedar menanyakan keadaannya kepada beberapa teman Sisi.
Teman-teman di kampus dan kosnya tampak heran dan bertanya-tanya, tapi tak ada
yang berani mengajukannya secara langsung kepada sang pangeran yang murah hati
itu. Juga tak ada yang mempersoalkan apa dia masih pantas menyandang gelar
santo setelah mulai jarang ke Gereja atau berkotbah soal-soal agama lagi. Pun
tak ada yang berniat mencopot nama Bola di belakangnya meski sudah lama tak ada
lagi dentingan botol tuak beradu senduk dan gelas menemani lépeng yang nikmat.
Martinus menjalani hari-harinya
sendirian di dalam kamar, hingga suatu ketika seorang teman Sisi datang
mengantar kiriman dalam kaleng biskuit besar. Ia langsung menyambar anvlop
putih yang dilekatkan pada tutup kaleng itu dan membaca isinya.
“Martinus, pangeranku yang murah
hati. Saya tidak sungguh-sungguh menanggapi kotbahmu untuk hubungan kita, tentang
Santo Martinus yang memberikan sebagian jubahnya untuk orang miskin yang kedinginan
di pintu gereja. Kau memang bisa membual. Tapi saya sungguh amat tersentuh
ketika kita tidak sengaja menabrak dengan sepeda motormu seekor anak kucing
pada suatu malam yang dingin sepulang kuliah! Kucing itu mengerang kesakitan,
lalu mati sebelum kita datang menghampirinya. Kau merunduk, melepaskan baju
kausmu lalu membungkus bangkai kucing itu, meletakannya di tepi jalan sambil
mulutmu bergumam seolah mengucap doa. Kau sungguh Santo Martinus bagiku! Kini,
di dalam kaleng ini, anakku, anak kita telah jadi mayat! Saya sungguh memahami apa yang kau inginkan
untuk dia. Saya sendiri telah melakukan keputusan berat ini, kini bagianmu
untuk memakamkannya! Beri dia sehelai bajumu.” Martinus memeluk kaleng biskuit
itu, menangis meraung sejadi-jadinya, mengambil helm dan menyambar motornya
menuju kos Sisi. “Kau terlalu Sisi, ini anakku. Kau telah membunuhnya
sendiri…….”
Di pintu kamar kos Sisi ia rebah
dengan tangan memeluk kaleng. Dari dalamnya berhamburan teman-temannya bersama
Sisi dengan perutnya yang kian membesar. Sisi membangunkan Martinus dengan
susah payah, memeluknya dengan kasih sayang membiarkan perutnya yang buncit mengganjal
pelukan erat mereka. “Anakmu ada di sini. Di kaleng itu lépeng dari kampung
untukmu. Mari kita rayakan kemenangan ini dengan teman-teman.”
Maumere, 25 Juni 2009
Lépeng: lauk teman minum tuak.