BAHASA INGGRIS


BAHASA INGGRIS
Memperkenalkan bahasa Inggris kepada seorang anak kelas satu SD yang baru mulai mengenal huruf-huruf memang cukup membingungkan. Bayangkan, huruf I yang harus susah payah dibedakan dari angka 1 dan huruf l tidak lagi dibaca sebagai vokal tunggal i, tetapi mesti ai. Bagaimana kita harus menjelaskan me (yang artinya saya sebagai obyek) harus dibaca mi yang juga sama bunyinya dengan mie instant yang biasa dikenalnya, tetapi  terbentuk dari huruf m, i dan e. Mungkin satu-satunya kesimpulan yang bisa kita jelaskan kepada anak-anak adalah bahwa bahasa Inggris itu memang aneh, tulis lain, baca lain. Dalam bahasa Indonesia, hal itu sama sekali tidak ditemui; satu-satunya kata yang ditulis lain dan dibaca lain, ya hanya kata LAIN.
Dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak dikenal sebagai kelompok sosial yang polos dan lugu. Apa saja yang mereka pikirkan, rasakan atau inginkan, mereka sampaikan dengan terus terang dan apa adanya, suatu kenyataan yang sering membuat malu orang tua atau kerabatnya yang lebih dewasa. Misalkan, seorang anak yang diberi hadiah sepotong biskuit yang enak oleh tamu, diharapkan oleh orang tuanya untuk mengucapkan kata terima kasih seperti yang biasa diajarkan. Namun ketika didesak orang tuanya untuk harus mengatakan sesuatu sehubungan dengan pemberian itu, dengan polos ia minta ‘tambah lagi’. Ingatannya atas ajaran orang tua untuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang memberikan sesuatu tidak dapat mengalahkan keinginannya untuk mendapatkan lagi pemberian yang enak dan dia sukai. Dalam dunia anak-anak, sebuah dunia yang masih polos dan lugu, perasaan dan pikiran yang muncul diungkapkan secara terus terang dan apa adanya, tanpa banyak pertimbangan dan spekulasi; tulis i baca i, baca ai, harus juga tulis ai.
Satu kalimat dalam kitab Injil yang cukup mengganjal adalah ini: kalau ya katakan ya, tidak katakan tidak, karena selebihnya berasal dari si iblis!. Dalam dunia orang dewasa di zaman ini, tidak banyak ya yang benar-benar berati ya, seperti juga tidak banyak tidak yang benar-benar berarti tidak! Setiap orang membutuhkan sebuah pemahaman yang luas akan konteks suatu pembicaraan untuk bisa memastikan bagi dirinya suatu pernyataan yang bermakna ya itu benar-benar berarti ya atau tidak, atau malah tidak berarti apa-apa. Pernyataan-pernyataan pejabat negara, tokoh politik atau aparat pemerintah tidak dapat sepenuhnya dipercayai masyarakat sebagai kebenaran: ada politik pencitraan, upaya pembenaran diri atau taktik menghindari tanggung jawab. Bahkan seruan moral dan himbauan spiritual pemuka-pemuka agama masih harus diteliti serius: benarkah itu semua juga mereka laksanakan sebagai jalan yang mereka percayai membuat dunia ini lebih baik. Sesungguhnya tidak banyak lagi ya sebagai kebenaran yang dikatakan ya, dan tidak yang dikatakan tidak, karena telah banyak lebihnya yang ditambahkan oleh iblis!
Mengimpikan sebuah dunia yang lebih baik dengan bahasa Inggris? Mengapa tidak! Penguasaan bahasa Inggris yang memadai dalam sebuah bangsa telah terbukti membuat bangsa itu lebih mudah masuk dalam peradaban dunia yang disebut globalisasi ini. Bahkan Filipina dan Malaysia yang relatif ngawur mengintegrasikan bahasa Inggris dalam bahasa pergaulan sehari-hari menjadi lebih mudah berinteraksi dengan bangsa lain di dunia, termasuk melalui komputer dan internet. Bahasa Inggris yang harus diakui membingungkan itu, bukan saja bagi anak-anak yang polos, tetapi juga bagi orang dewasa yang malas, mau tidak-mau harus dipelajari dalam era globalisasi ini. Sebuah dunia yang kini menjadi sebuah kampung besar yang dinamai globalisasi ini memang harus ditopang oleh sebuah bahasa dunia, ya bahasa Inggris. Semua orang yang menjadi warga dunia atas nama globalisasi harus bisa berkomunikasi dengan orang lain dalam bahasa Inggris untuk mengatasi batas-batas geografis, sosial, ekonomi, politik dan budaya; sekalipun yang ditulis lain harus dibaca lain!
Sebuah kebenaran yang kedengarannya diungkapkan sebagai ya tetapi terdengar sebagai tidak atau sebaliknya, harus diakui telah membuat dunia ini sebagai kerajaan IBLIS!. Korupsi sebagai sebuah masalah pengelolaan keuangan pada lembaga pemerintah pada hakikatnya adalah suatu kesalahan, titik! Korupsi adalah serangkaian kesalahan mengenai uang: mulai dari perencanaan, penetapan, pencairan, penggunaan, pertanggungjawaban, pengawasan, pengendalian dan terakhir tanggung jawab moral kepada rakyat yang katanya sebagai  pemilik uang itu. Pelakunya adalah setiap orang yang diberi atau memiliki kewenangan atau tanggung jawab dalam setiap proses atas uang itu; mungkin tidak semua, tetapi tentunya banyak, sebanyak proses terhadap uang itu harus dilalui. Sikap cuci tangan dan lempar tanggung jawab melalui pernyataan-pernyataan saya tidak tahu, saya lupa, tanya saja pejabat ini atau seharusnya dia yang bertanggung jawab memperlihatkan bahwa kebenaran sebagai ya tidak diungkapkan sebagai ya, dan tidak tidak lagi sebagai tidak: telah banyak lebihnya yang ditambahkan iblis untuk meluaskan kerajaannya!
Inilah kerajaan iblis itu: orang yang tahu kesalahan yang mereka lakukan tidak mengakuinya begitu saja, tetapi melemparkannya kepada orang lain atau sekadar mencari-carinya pada orang lain. Jika orang itu tahu, ada orang lain yang juga sama-sama bersalah, mereka membangun komplotan untuk menyusun strategi dan membangun siasat, tipu daya dan berusaha mempengaruhi atau meyakinkan orang lain lagi untuk membela mereka. Upaya itu bisa meluas lagi ke pihak yang seharusnya menegakkan kebenaran atas nama hukum: polisi, jaksa, hakim, partai politik atau masyarakat luas. Upaya-upaya itu tidak saja dengan siasat dan strategi saja, tetapi seringkali dengan sejumlah uang sogok dan biaya-biaya lainnya lagi yang terbuka pula kepada korupsi lagi. Ada begitu banyak kejahatan yang dilakukan untuk menutupi satu kejahatan, dan lihatlah betapa banyaknya masalah di negeri ini: dari Jakarta sampai Nangahure!
Lalu, apa yang mesti dibuat? Mengeluh, menyerah, atau ikut arus? Adakah satu saja hal kecil yang masih bisa kita lakukan sekadar menghentikan atau memutus lingkaran setan kejahatan ini? Sekurang-kurangnya dengan tidak ikut mencela, mencaci maki atau mencuci tangan dan melempar tanggung jawab, bisakah? Saya tahu, birokrasi di negeri ini, pemerintah di kabupaten ini, juga Bagian Kesra yang saya junjung saat ini sedang disoroti dari berbagai sisi sebagai ajang paling korup. Saya tahu juga, inilah tempat paling kotor, penuh sampah dan lumpur yang menjijikkan bagi banyak orang. Saya hanya memohon kepada TUHANKU, tumbuhkan stek kecil yang kusemai ini, aku berjanji menyiram dan merawatnya: kiranya ia KAUperkenankan menyumbang sekuntum saja MAWAR kecil untuk INDONESIA. (Aku tidak mau ikut bicara bahasa Inggris, ya kukatakan ya, tidak kukatan tidak!: melalui blog pribadiku ini).
Lantai atas rumahku, 7 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar