Di Maumere, kotaku ini, konon hanya ada dua taman yang
sangat terrawat: taman sepanjang Jl. Adi
Sucipto dan Taman Kristus Raja. Dua-duanya, entah kenapa sama-sama berada di
pintu masuk kota ini: dari laut dan udara, tapi nilai yang rupanya ingin
ditawarkan amat berbeda: yang pertama untuk mata jasmani, yang terakhir untuk
mata rohani. Tapi bolehlah, keduanya
telah memberi warna istimewa untuk kotaku ini, terutama kepada orang-orang yang
baru datang. Dari salah satu taman
itulah saya belajar memberi makna pada kedatanganku ke kota ini, terutama
ke dalam barisan korps ini, Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Akhir 2004, ketika hampir menjadi seorang ayah, saya datang dan duduk di hadapan Patung Kristus Raja, di salah satu taman di kota ini. Dalam diam saya berujar, saya telah menjadi seorang suami, dan tak lama lagi akan menjadi ayah; beri saya pekerjaan yang pantas untuk menghidupi mereka.... ada kesempatan menjadi PNS, tapi beri saya pekerjaan yang lain saja. Saya tidak suka menjadi PNS; beri saja kesempatan itu untuk orang lain yang lebih membutuhkan. (Saya telah mengajukan lamaran untuk menjadi tenaga fasilitator pada sebuah NGO internasional, dan berharap diterima di sana...) Beberapa saat kemudian saya berbalik, keluar dari taman dan hendak pulang. Beberapa langkah keluar dari taman saya menjadi sadar, saya tidak bisa bersikap seperti itu; saya balik lagi ke taman. Saya duduk lagi dan berdoa begini: "Tuhan, saya memang butuh kerja, saya juga tidak suka jadi PNS. Tapi kalau Engkau memang menghendaki dan punya rencana dengan saya sebagai PNS, saya siap menerimanya". Saya pulang dengan damai, dan langsung melupakan doa itu.
Ketika kemudian tahu bahwa saya dinyatakan lulus dan diterima sebagai PNS, saya menjadi sedikit gentar mengingat doa terakhir di taman itu. Hari-hari pertama dalam seragam kheki memang membuat saya keki, kikuk dan serasa asing. Selanjutnya saya menjadi terbiasa, dan memulai pencarian makna kehadiran saya dan kehendakNya bagi saya sebagai anggota barisan PNS. Hampir setiap moment dan kesempatan saya cerna dan refleksikan kalau-kalau inilah yang dimaksudkan dengan kehadiran saya di korps ini. Hingga kini, setelah hampir delapan tahun, saya belum sungguh yakin telah menemukan maknanya; saya masih terombang-ambing dalam pakem dan format yang sudah ditetapkan.
Dengan berlalunya waktu, kini kuputuskan untuk mulai belajar memberi makna kehadiran dan keberadaanku dalam korp ini. Makna itu masih kabur dan bias, namun keputusanku sudah bulat: saya harus mulai memaknainya. CANGKIR RETAK, sebuah blog sederhana ini adalah salah satu cara saya memberi makna hadir dan adaku di korps ini: tidak sempurna memang, tapi tetap punya tujuan tegas dan jelas; sebentuk pertanggungjawaban moril dan profesional atas tugas dan pekerjaan saya sehari-hari sebagai PNS. Ini mesti diterima sebagai ketulusan seorang pelayan, yang meskipun ragu dan malu-malu tetap berusaha menyuguhkan minuman seadanya kepada tamunya, meski ia tahu cangkir yang dimilikinya telah retak. Semoga ANDA tidak menjadi kecewa mendapati cangkir ini retak di mana-mana, tapi lepaskanlah sedikit dahagamu dengan menu yang saya sajikan di sini.
Akhir 2004, ketika hampir menjadi seorang ayah, saya datang dan duduk di hadapan Patung Kristus Raja, di salah satu taman di kota ini. Dalam diam saya berujar, saya telah menjadi seorang suami, dan tak lama lagi akan menjadi ayah; beri saya pekerjaan yang pantas untuk menghidupi mereka.... ada kesempatan menjadi PNS, tapi beri saya pekerjaan yang lain saja. Saya tidak suka menjadi PNS; beri saja kesempatan itu untuk orang lain yang lebih membutuhkan. (Saya telah mengajukan lamaran untuk menjadi tenaga fasilitator pada sebuah NGO internasional, dan berharap diterima di sana...) Beberapa saat kemudian saya berbalik, keluar dari taman dan hendak pulang. Beberapa langkah keluar dari taman saya menjadi sadar, saya tidak bisa bersikap seperti itu; saya balik lagi ke taman. Saya duduk lagi dan berdoa begini: "Tuhan, saya memang butuh kerja, saya juga tidak suka jadi PNS. Tapi kalau Engkau memang menghendaki dan punya rencana dengan saya sebagai PNS, saya siap menerimanya". Saya pulang dengan damai, dan langsung melupakan doa itu.
Ketika kemudian tahu bahwa saya dinyatakan lulus dan diterima sebagai PNS, saya menjadi sedikit gentar mengingat doa terakhir di taman itu. Hari-hari pertama dalam seragam kheki memang membuat saya keki, kikuk dan serasa asing. Selanjutnya saya menjadi terbiasa, dan memulai pencarian makna kehadiran saya dan kehendakNya bagi saya sebagai anggota barisan PNS. Hampir setiap moment dan kesempatan saya cerna dan refleksikan kalau-kalau inilah yang dimaksudkan dengan kehadiran saya di korps ini. Hingga kini, setelah hampir delapan tahun, saya belum sungguh yakin telah menemukan maknanya; saya masih terombang-ambing dalam pakem dan format yang sudah ditetapkan.
Dengan berlalunya waktu, kini kuputuskan untuk mulai belajar memberi makna kehadiran dan keberadaanku dalam korp ini. Makna itu masih kabur dan bias, namun keputusanku sudah bulat: saya harus mulai memaknainya. CANGKIR RETAK, sebuah blog sederhana ini adalah salah satu cara saya memberi makna hadir dan adaku di korps ini: tidak sempurna memang, tapi tetap punya tujuan tegas dan jelas; sebentuk pertanggungjawaban moril dan profesional atas tugas dan pekerjaan saya sehari-hari sebagai PNS. Ini mesti diterima sebagai ketulusan seorang pelayan, yang meskipun ragu dan malu-malu tetap berusaha menyuguhkan minuman seadanya kepada tamunya, meski ia tahu cangkir yang dimilikinya telah retak. Semoga ANDA tidak menjadi kecewa mendapati cangkir ini retak di mana-mana, tapi lepaskanlah sedikit dahagamu dengan menu yang saya sajikan di sini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar