“Romarea, sebuah komunitas sosial politik berusia
balita tidak mempunyai dasar pijakan yang memadai baik secara etnis, budaya
apalagi politik. Menoleh ke belakang, mencari dasar pijakan pada sejarah yang
ditorehkan para mosalaki dan pemuka kampung pada dasar sebuah lembaga
pendidikan yang masih tetap eksis hingga saat ini, dan terutama menimba kisah
penuh semangat para pelaku sejarah yang masih hidup bisa membangkitkan
antusiasme dan semangat bersama untuk membangun Romarea yang sejahtera dan
bermartabat; tidak perlu terlalu lama. “
Fokus tulisan
ini menyangkut dua objek : Romarea, nama sebuah wilayah administratif baru berupa desa otonom di
Kabupaten Ende, dan sejarah sebagai
sebuah himpunan atau rangkaian tulisan dan situs sebuah budaya dalam lintasan
waktu. Keduanya coba dipertemukan atau dihubungkan dengan sebuah upaya atau
proses sadar untuk mulai belajar masuk dalam peradaban umat manusia: menuliskan
sejarahnya. Upaya ini menjadi penting dan strategis mengingat di zaman serba
canggih dan instan ini, sebuah sub-etnis yang nyaris tergilas oleh arus
globalisasi berusaha keluar dari dunia tradisionalnya menuju interaksi yang
lebih luas dengan dunia luar. Dengan mulai dan belajar menuliskan sejarahnya,
Romarea, sebuah komunitas baru berusaha menegaskan dirinya dan dengan percaya
diri memasuki dinamika kehidupan sosial politik bersama komunitas lain di
sekitarnya.
Romarea adalah
sebuah nama baru yang muncul beberapa tahun belakangan seiring dengan wacana
pemekaran desa-desa dalam wilayah administrasi Kecamatan Nanganpanda, Kabupaten
Ende. Bersama desa Mboabhenga dan Malawaru, Romarea menyiapkan dirinya menjadi
desa otonom lepas dari desa Tendambepa. Separuh wilayah dan penduduk Romarea
adalah juga bagian dari desa Watumite, sehingga desa baru tersebut sesungguhnya
lepas dari dua desa induk untuk menjadi satu desa otonom. Romarea juga
sesungguhnya menjadi sebentuk solusi terakhir untuk serangkaian konflik panjang
yang terjadi oleh interaksi sosial ekonomi yang sangat mengganggu, seperti
domisili penduduk yang simpang siur, klaim tanah suku, tanah dan bangunan sekolah serta kapela. Nama
itu, juga adalah hasil sebuah kompromi warga dua dusun bertetangga dari dua
desa berbeda tadi: Rowombojo (dari desa Watumite) dan Malaara (dari desa
Tendambepa) di tanah (suku) Rhea: RoMaREA.
Suku kata
terakhir dalam nama itu juga tampaknya masih menyimpan potensi konflik: Rhea
(harafiah: halia, jahe), sebuah suku
yang menguasai tanah di wilayah itu. (Dewasa ini, suku lebih dipahami
sebagai sebutan untuk menerangkan garis keturunan dari leluhur tertentu, tidak
lagi dalam konteks etnologis dengan perangkat hukum dan struktur adat tertentu).
Sebutan itu sejajar dan sama artinya dengan Rhea pada beberapa nama desa di
kecamatan Nangapanda: Ondorea, Ndorurea, Tendarea. Rhea sebagai sebuah suku yang menguasai tanah adat, seperti suku Roro
(Rhorho) di Kecamatan Nangaroro, Nagekeo dewasa ini tidak lagi mendapat
legitimasi yang memadai. Memudarnya legitimasi itu ditandai oleh lemahnya
kewibawaan otoritas suku atau pemangku adat, terutama dalam menangani konflik
antara suku-suku kecil yang konon menerima pemberian / pembagian tanah dari dua
suku tersebut. Baik Rhea di Kabupaten Ende maupun Rhorho di Kabupaten Nagekeo,
kedua suku yang menguasai tanah adat di perbatasan selatan dua kabupaten
tersebut sama-sama tidak lagi mempunya legitimasi yang terukur di wilayahnya
masing-masing. Bahwa desa Romarea yang secara administratif berada di wilayah kabupaten Ende (tanah
Rhea), dalam berbagai konflik tanah suku lebih banyak diupayakan
penyelesaiannya oleh pemangku adat / suku Rhorho yang di Nagekeo. Konflik tanah
suku yang tetap mengendap sampai saat ini mengenai wilayah desa Romarea antara
suku Asa dan Numba saja tidak pernah tuntas diselesaikan oleh otoritas suku
Rhea maupun Rhorho: dusun ROwomboja dan MAlaara di tanah RHEA, atau Numba, atau
Asa atau Rhoro adalah potensi konflik yang pantas diperhitungkan di tengah
eksentrisme suku-suku di era reformasi ini.
Lepas dari itu
semua, Romarea telah menampilkan dirinya dan berusaha untuk mulai dan belajar
menuliskan sejarahnya, sejak ia menjadi desa yang otonom! Sejarah, seperti kata
orang bijak bestari, ditandai oleh sebuah garis yang disebut tulisan. Tulisan
membatasi sebuah lintasan waktu yang dilalui sebuah komunitas dan peradabannya
menjadi dua bagian: prasejarah dan sejarah. Bangsa-bangsa besar dalam peradaban
tua menandai sejarahnya dengan tulisan-tulisan pada batu, dinding gua,
prasasti, daun lontar atau kulit binatang. Dunia mencatat dalam sejarahnya,
bahwa bangsa-bangsa besar itu telah memulai sejarahnya ribuan tahun silam; dan
mereka mewariskan aksara-aksaranya yang khas untuk kita seperti Mesir,
Mesopotamia, Yunani, Romawi/Latin, China,
Jepang dan India.
Bahkan beberapa suku terdekat dalam peradaban yang lebih muda seperti Jawa dan Bali mempunyai aksara sendiri. Kita di NTT tidak
berkesempatan menandai sejarah kita dengan aksara kita sendiri, tak apalah.
Tetapi yang pasti, kita juga bisa menggariskan batas yang jelas antara
prasejarah dan sejarah pada lintasan waktu yang dilalui peradaban kita, dengan
aksara ‘impor’. Dengan aksara Latin dan dalam bahasa Indonesia, suku-suku di
Flores dan NTT umumnya berjuang menuliskan sejarahnya; seperti yang sedang diusahakan
dengan susah payah oleh Romarea sekarang ini.
Menengok ke
belakang, menghitung mundur tahun-tahun yang telah lewat, leluhur nenek moyang
orang Romarea sekarang hanya bisa terlacak lewat silsilah yang masih terjaga
dalam beberapa suku secara lisan. Boleh dibilang, warga Romarea yang bergelar
sarjana pada dekade 1980-an adalah generasi kedua yang mengenal huruf, tepatnya
bersekolah. Generasi pertama, yang mungkin mempunyai kontak dengan misionaris
atau pemerintah kolonial Belanda mengenal huruf untuk kepentingan administrasi
pajak adalah Soy Soba (wafat 18 Januari 1969), yang dikenal dengan sebutan
Mandor. Michael Ma Soy (1940-2002) adalah salah seorang anak Mandor yang
berkesempatan bersekolah sampai tingkat SLTP di Ende, dan menjadi salah satu
pelopor pendidikan di wilayah itu dengan mendirikan sekolah dasar di wilayah
itu tahun 1966. Dari beberapa tulisan yang ditinggalkan beliau, kita dapat
mulai mencoba menemukan jejak-jejak yang mengindikasikan garis sejarah itu
mulai ditorehkan pada lintasan waktu orang Romarea.
Ketika sejarah
kerajaan-kerajaan besar di Indonesia
dapat dikatakan dimulai dari prasasti-prasasti yang menerangkan tahun
berdirinya sebuah kerajaan atau penobatan seorang raja, Romarea mungkin boleh
mengajukan sebuah tulisan berupa catatan tentang berdirinya Sekolah Dasar
Negeri (SDN) Malaara. Sepuluh orang mosalaki dan pemuka kampung yang disebut
‘sedari Nangge sampai Sambidhaga menjatakan persetudjuan akan bentuknja satu
S.D. baru yang terletak di Rowobodjo’ membubuhkan tanda tangannya masing-masing
pada surat yang
menjadi statuta / pendirian SDN Malaara, 11 September 1966. Mosalaki dan pemuka
itu adalah : Yohanes Ngange, Nikolaus Naga, Mikhael Rubu, Bernadus Wenggo,
Moses Miri, Leonardus Uda, Simon Mbama, Karolus Kodjo, Darius Dari dan Andreas
Rugi. (Michael Ma Soy bertindak sebagai penjusun
yang tampaknya mampu menulis dengan lebih baik). Tiga di antaranya yakni Moses
Miri, Andreas Rugi dan Darius Dari masih hidup saat ini; tokoh-tokoh yang patut
disebut pelaku sejarah Romarea yang patut didengar kesaksiannya untuk sebuah
sejarah yang jujur dan objektif. Dari selembar statuta itulah kiranya Romarea
memulai sejarahnya, terutama dengan terus mewarisi tradisi tulis-menulis
melalui lembaga pendidikan yang dibentuk oleh para pelaku sejarah tersebut.
Tetapi lalu
menjadi tanda tanya pula, untuk apa sejarah masa lalu diangkat lagi. Apa memang
ada gunanya; masih relevankah mempelajari sejarah sebuah masyarakat di masa
silam? Jawabannya ada pada pengalaman bangsa-bangsa besar di dunia yang telah
membangun peradabannya atas sejarah yang benar dan obyektif, yang memberi dasar
pijakan yang pasti dan tegas bagi setiap generasi sesudahnya untuk bersikap dan
berperilaku secara bijaksana di tengah pergaulan dengan dunia yang luas dan
intens. Bangsa-bangsa yang mengabaikan sejarah dan meninggalkan warisan
leluhurnya telah menjadi goyah dan mudah rubuh diterpa topan globalisasi dan
modernisme. Seruan untuk kembali kepada tradisi nenek moyang dan mendalami
sejarah untuk menemukan jati diri menjadi titik balik yang bermakna perintah
bernada keharusan. Romarea, sebuah komunitas sosial politik berusia balita
tidak mempunyai dasar pijakan yang memadai baik secara etnis, budaya apalagi
politik. Menoleh ke belakang, mencari dasar pijakan pada sejarah yang ditorehkan
para mosalaki dan pemuka kampung pada dasar sebuah lembaga pendidikan yang
masih tetap eksis hingga saat ini, dan terutama menimba kisah penuh semangat
para pelaku sejarah yang masih hidup bisa membangkitkan antusiasme dan semangat
bersama untuk membangun Romarea yang sejahtera dan bermartabat; tidak perlu
terlalu lama.
Romarea sebagai
sebuah komunitas sosial politik dengan komandan muda Theofilus K.E. Sareng sebagai
kepala desa terpilih mesti berani menentukan sikap tegas menatap masa depannya:
bangkit berdiri membangun desa mengejar ketertinggalannya, atau duduk lesu
terpekur menyesali nasib sial dikungkung feodalisme suku dan sentimen kampung
yang kelewat basi nan usang. SDN Malaara yang dibentuk oleh para mosalaki
berani dan pemuka brilian sedari Nangge sampai Sambidhaga sejak tahun 1966
telah mengajarkan kepada hampir semua warga Romarea sekarang tentang dunia
modern yang dibangun peradaban bangsa-bangsa besar; tidak sepantasnya kini kita
kembali ditarik mundur lima puluh tahun ke belakang kepada masa feodal di zaman
prasejarah di bawah kuasa suku-suku dan penguasa adat secara tidak bertanggung
jawab. Lembaga pemerintahan desa yang telah dipilih warga Romarea secara sangat
demokratis dan berkualitas mesti berani menentukan sikap sekarang, karena
kehidupan tidak pernah berhenti atau berjalan mundur! Romarea sebagai sebuah
desa otonom harus berani mulai menuliskan sejarahnya sendiri: para mosalaki dan
pemuka harus berani menuliskan namanya dan membubuhkan tanda tangannya pada statuta
pendirian desa Romarea, seperti yang telah dilakukan para pendahulu kita ketika
mendirikan SDN Malaara, empat puluhan tahun silam. Sejarah itu harus mulai
ditulis, meski dengan tangan terkulai dan lengan yang gemetaran, dengan tinta
buram pada kertas kusam sekalipun. Warga desa Romarea harus berani melakukannya
sekarang, tidak dapat ditunda terlalu lama lagi, karena ia adalah impian
terpendam para leluhur dan nenek moyangmu dulu; kebanggaan maha besar anak
cucumu kelak; dan kerinduan maha dalam saudara-saudaramu di perantauan…. sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar