Selasa, 04 Desember 2012

BERI DIA BAJUMU


Santo Martinus Bola. Nama yang unik sekaligus menarik. Seperti juga mungkin orangnya. Tapi ia datang dari kampungnya hanya dengan nama Martinus, tanpa Bola di belakangnya, apalagi Santo di depannya. Bahwa kemudian ia punya nama atau dipanggil demikian, beginilah ceritanya.

Ia seorang yang cerdas, baik hati dan rada religius! Baiklah kita mulai satu persatu, demikian biasanya ia mulai bicara di depan teman-temannya, apalagi kalau banyak cewek yang mulai mendengarnya. Pada waktu ospek ia ditanya namanya oleh senior, dan ia hanya menjawab Martinus.
“Martinus apa?”
“Martinus!” jawabnya gugup.
“Iya, Martinus apa kek, Martinus Moan Mitan, Martinus Nong Megung?”
“Nama saya memang hanya Martinus saja.”
“Ha…., Martinus Saja?”
“Bukan, Martinus! Itu saja.”
“Lalu dari mana asalmu?”
“Bola.”
“Nah, saya beri kamu nama baru: Martinus Bola.”
Demikianlah ia menjadi Martinus Bola, nama yang kemudian diterima begitu saja oleh semua temannya. Dia juga. Toh tidak lazim punya nama hanya Martinus saja. Mungkin lebih baik supaya ia cepat dikenal teman-teman barunya, Martinus dari Bola.
Kalau kemudian ada santo di depannya, itu karena ia menampilkan dirinya sebagai orang yang baik hati, seperti Santo Martinus. Setiap kali pulang liburan dari kampungnya ia selalu membawa beberapa botol tuak, lalu menggelar acara minum bersama teman-temannya. Ketupat, jagung titi, ikan kering dan lain-lainnya yang sengaja disiapkan ibunya untuk beberapa bulan, langsung dihabiskan sebagai lépeng bersama botol-botol tuak itu. Hari-hari selanjutnya dia makan di mana saja, makan apa adanya. Jika ia sedang punya uang, sekali-kali janganlah ia tahu ada temannya yang kesulitan. Pastilah diberikan begitu jua uangnya, sering pula tak ada sisa untuknya. Begitu juga kalau ada temanya yang sedang ada masalah; kata peneguhan, nasihat dan berbagai pertimbangan yang bijaksana ia bagikan sebagai saudara sekandung. Pokoknya nyaris tak ada yang keberatan kalau ia digelar Santo Martinus oleh teman-temannya; sang perwira yang menyobek jubahnya untuk orang miskin yang kedinginan.
Dan ini dia ceritanya ketika ia memperkenalkan Sisi pacarnya kepada teman-temannya. “Pada suatu senja hari yang dingin, di kala Santo Martinus keluar dari pintu gereja usai berdoa, didapatinya seorang wanita yang sedang menggigil kedinginan. Timbullah iba di hatinya melihat wanita malang itu. Disangkanya seorang nenek renta, tak taunya seorang gadis rupawan.”
“Huuuuu…” Teriak teman-temannya.
 “Maka tergeraklah hatinya oleh belas kasihan,” lanjutnya percaya diri. “Hendak disobeknya jeket militernya untuk sang gadis malang. Dicarinya pedang di pinggangnya, eh tak ada! Ah, tak apalah, lagi pula sayang kalau disobek bagi dua. Maka diberikan saja jeket kebesarannya. Karena itu sang gadis terus mengikuti Santo Martinus ke manapun ia pergi, nih sampai sekarang! Dan ini dia, Santa …… Sisilia!”. Karuan saja teman-temanya menyoraki pasangan itu.
“Hati-hati Sisi, sekarang dia sembunyikan pedangnya. Nanti kau ia jadikan lépeng.” Teriak Nino dari kejauhan.
“Gak salah apa, Santo Martinus itu algojo, bukan pengkotbah”. Sambung yang lainnya.
“Tenang saudara-saudara. Kalau soal itu mah, Santo Martinus pernah masuk seminari.  Ya, sewaktu TK….”
Dan sekarang tokoh kita jadi dua: Santo Martinus Bola dan Santa Sisilia. Juga tak banyak yang keberatan atau mempersoalkan kedua santo dan santa itu berpacaran; dalam kelakar dan canda ceria, ataupun dalam bisik-bisikan dan gosip para mahasiswa. Bahwa Martinus digelar santo dalam suasana kelakar, Sisi tampaknya memang punya tampang santa! Sebagai anak tertua dari keluarga saleh di kota Reinha Larantuka, Sisi tampil sebagai sosok yang nyaris sempurna. Pembawaannya tenang, tutur katanya bersahaja, perilakunya santun berkarakter tegas meski penampilan fisik dan wajahnya biasa-biasa saja. Sebagai mahasiswa yang sibuk dengan segala urusan kuliah, ia selalu punya waktu untuk ke Gereja atau berdoa Rosario di Komunitas Umat Basis di sekitar kosnya. Urusan koor di Gereja dan kegiatan rohani lainnya Sisi pasti terlibat aktif. Dan serasinya, Santo Martinus sering menemaninya. Maka nyaris tak ada yang meragukan hubungan keduanya, di tengah lingkungan mahasiswa yang nyaris tanpa peraturan dan kontrol orang tua.
Namun persis di situlah keduanya jatuh berantakan! Pada suatu malam yang senyap, di bawah rintik hujan yang mendinginkan suasana, keduanya tak kuasa mengendalikan diri lagi. Maka luluh sudah apa yang selama ini mereka pertahankan dengan sadar, atas nama tanggung jawab kepada orang tua masing-masing di kampung dan adik-adiknya, teman-teman yang diam-diam mengagumi mereka dan tetangga sekitar kos yang nyaris menjadikan mereka panutan bagi anak-anaknya sendiri.  Di kamar Sisi yang nyaris tanpa suara keduanya larut dalam hubungan dua anak manusia yang disatukan oleh cinta, lahir batin! Tak ada yang memaksa atau merasa terpaksa ketika cumbuan yang biasanya diselingi gelitikan dan canda kelakar berlanjut tanpa busana. Juga tak ada penyesalan atau rasa bersalah yang langsung menyergap kala mereka berdua turun dari puncak kenikmatan pengalaman pertama perawan dan perjaka. Pun tak ada yang merasa takut, cemas atau perasaan macam-macam untuk mulai saling mempersalahkan atau menyusun kata-kata pembenaran. Keduanya larut dalam suasana lahir batin yang tak dapat dibahasakan, seolah mereka baru saja diayubahagiakan dalam acara perkawinan suci yang agung nan meriah.
Sisi kemudian masih juga ke Gereja,  Martinus pun tetap setia menemaninya. Mereka masih juga melakukan hubungan itu beberapa kali, masih juga tanpa rasa bersalah, penyesalan atau pun niat menghentikannya. Mungkin ini yang namanya pemahaman baru dalam konsep moral orang modern, komentar Martinus suatu saat ketika mereka membahas hubungan mereka dari hati ke hati. Sisi juga tidak membantah atau membenarkan. Apa yang dimaksudkan dengan dosa kalau sesuatu dilakukan dalam cinta yang tulus tanpa niat memperalat atau memanipulasinya? Siapakah yang berani tampil sebagai hakim bagi dua orang yang saling mencintai, selain cinta itu sendiri? Toh tidak ada keraguan, kecemasan dan penyesalan yang mengganjal; mereka terus maju mengarungi lautan hidup masa muda yang ceria: Santo Martinus yang murah hati dan religius, Santa Sisilia yang santun dan saleh!
Sampai suatu hari, ketika Sisi menyadari beberapa bulan telah lewat tanpa menstruasi. Ia seakan berhenti sejenak, menoleh ke masa silam beberapa saat bersama sang perwira yang ia banggakan. Di kamarnya, dalam posisi duduk saling membelakangi, ia sampaikan kabar itu kepada Martinus. Ia tak berniat mendeteksi reaksi sang pangeran, tapi sebentuk sentakan dari nadinya dapat membahasakan perasaannya tentang kabar itu. Lama sesudahnya tak ada yang bersuara, masing-masing diam dalam lautan perasaanya sendiri. Kemudian Martinus memutar badan, menghadapkan wajahnya menatap Sisi yang tetap saja tenang.
“Sudah kamu tes urinnya?”
“Belum. Baiknya besok kita ke Puskesmas saja supaya lebih pasti.” Jawab Sisi meneliti wajah Martinus yang hanya beberapa mili dari wajahnya, seakan minta izin menembus ke dalam matanya, terus ke inti nuraninya.
“Baiklah. Besok saya jemput kamu jam delapan. Saya ada kuliah jam sebelas.” Martinus mengecup kening Sisi dengan sangat perlahan, lalu minta izin pulang.
Di Puskesmas Kota keduanya datang selayaknya pasangan muda, tepat ketika loket pendaftaran dibuka perawat jaga. Sekali lagi tak tampak perasaan serius yang mengganjal hati dan menerobos sampai ke ekspresi wajah keduanya; seolah diagnosa positif atau negatif tak akan berpengaruh apa-apa pada hari-hari hidup mereka selanjutnya sebagai orang muda dan sebagai mahasiswa. Pun ketika perawat menyodorkan hasil tes bertanda plus; mereka menerimanya dengan tenang tanpa mendiskusikannya sepanjang jalan pulang. Sekali lagi, ini memang halauan moral orang modern, Martinus menegaskan dalam hatinya.
Martinus baru tersentak bagai tersengat lebah di jantungnya kala Sisi tidak lekas beranjak bangun saat komuni dibagikan. Ia juga tak berusaha memaksa. Maka duduklah mereka berdua di bangku sepanjang sisa waktu misa, buru-buru memiringkan lututnya kian kemari memberi jalan bagi umat di sebelahnya yang bergegas maju ke altar. Ternyata beginilah rasanya tampil beda dalam sebuah komunitas sosial yang memisahkan orang saleh dari orang berdosa. Ia tidak seberapa terganggu dengan lirikan beberapa pasang mata yang menyiratkan keheranan, tapi terutama pada ketenangan sosok wanita berlagak saleh di sisinya yang tampak begitu aneh, seakan datang dari zaman Abad Pertengahan. Ia tak sepenuhnya mengerti, mengapa Sisi masih mewarisi kebiasaan tua yang tidak ditemukan dasar rasionalnya di zaman seperti ini. Ia sadar sungguh kini, ia telah dihakimi oleh tradisi kolot yang diwarisi Sisi dalam kesalehannya. Hatinya berontak, ini tidak dapat diterima! Ia merasa diadili tanpa diberi kesempatan membela diri atau sekedar menyampaikan pandangan moral religiusnya. Teologi macam apa yang mengajarkannya dan otoritas Gereja mana yang bisa melarang orang menerima komuni kudus? Siapakah yang bisa meneliti hatinya untuk dapat memvonis dirinya berdosa atas apa yang dia lakukan dengan orang yang dicintaniya, atas nama cinta pula?
Pertanyaan-pertanyaan ini berkecamuk di hatinya sepanjang jalan pulang, dan sebagiannya dapat ditangkap Sisi dalam sikap diamnya yang menjengkelkan Martinus. Sampai di kosnya, ia menarik Sisi masuk, dan dalam nada tegas ia mulai berkotbah. “Apa dengan cara ini kau mau mengatakan pada orang-orang bahwa saya ini orang berdosa, dan tidak pantas menerima komuni? Jawab Sisi, tatap mataku! Kau tahu, semua ini kita lakukan dalam cinta, dan saya tak perlu mengulangi lagi bahwa saya sungguh mencintaimu. Kau toh tidak meragukan dan mempersoalkannya. Tapi saya malu!”
“Apa itu berarti kau keberatan dengan anak yang  kukandung ini? Kau mau menolaknya?” Tanya Sisi tenang, tanpa niat menghakiminya. “Kau mau aku menggugurkannya?”
“Entahlah. Saya jadinya tidak terlalu yakin lagi dengan diriku, dengan pandangan dan nilai moral religius yang kuhidupi selama ini.” Martinus menjawab sekenanya saja. “Kalau kau merasa yang kita lakukan ini berdosa, mungkin tidak perlu ia dipertahankan karena hanya akan membangkitkan rasa bersalah dan dosa yang menyiksa kita sepanjang hidupnya kelak.” Inikah pandangan moral modern yang lebih membebaskan? Ia tidak sungguh yakin lagi seperti sebelumnya.
Mulutnya tidak secara tegas menjawab pertanyaan Sisi, tapi sikapnya terhadap Sisi di hari-hari selanjutnya menegaskan isi hatinya. Beberapa bulan lamanya ia tidak lagi menemani Sisi, mengunjunginya atau sekedar menanyakan keadaannya kepada beberapa teman Sisi. Teman-teman di kampus dan kosnya tampak heran dan bertanya-tanya, tapi tak ada yang berani mengajukannya secara langsung kepada sang pangeran yang murah hati itu. Juga tak ada yang mempersoalkan apa dia masih pantas menyandang gelar santo setelah mulai jarang ke Gereja atau berkotbah soal-soal agama lagi. Pun tak ada yang berniat mencopot nama Bola di belakangnya meski sudah lama tak ada lagi dentingan botol tuak beradu senduk dan gelas menemani lépeng yang nikmat.  
Martinus menjalani hari-harinya sendirian di dalam kamar, hingga suatu ketika seorang teman Sisi datang mengantar kiriman dalam kaleng biskuit besar. Ia langsung menyambar anvlop putih yang dilekatkan pada tutup kaleng itu dan membaca isinya.
“Martinus, pangeranku yang murah hati. Saya tidak sungguh-sungguh menanggapi kotbahmu untuk hubungan kita, tentang Santo Martinus yang memberikan sebagian jubahnya untuk orang miskin yang kedinginan di pintu gereja. Kau memang bisa membual. Tapi saya sungguh amat tersentuh ketika kita tidak sengaja menabrak dengan sepeda motormu seekor anak kucing pada suatu malam yang dingin sepulang kuliah! Kucing itu mengerang kesakitan, lalu mati sebelum kita datang menghampirinya. Kau merunduk, melepaskan baju kausmu lalu membungkus bangkai kucing itu, meletakannya di tepi jalan sambil mulutmu bergumam seolah mengucap doa. Kau sungguh Santo Martinus bagiku! Kini, di dalam kaleng ini, anakku, anak kita telah jadi mayat!  Saya sungguh memahami apa yang kau inginkan untuk dia. Saya sendiri telah melakukan keputusan berat ini, kini bagianmu untuk memakamkannya! Beri dia sehelai bajumu.” Martinus memeluk kaleng biskuit itu, menangis meraung sejadi-jadinya, mengambil helm dan menyambar motornya menuju kos Sisi. “Kau terlalu Sisi, ini anakku. Kau telah membunuhnya sendiri…….”
Di pintu kamar kos Sisi ia rebah dengan tangan memeluk kaleng. Dari dalamnya berhamburan teman-temannya bersama Sisi dengan perutnya yang kian membesar. Sisi membangunkan Martinus dengan susah payah, memeluknya dengan kasih sayang membiarkan perutnya yang buncit mengganjal pelukan erat mereka. “Anakmu ada di sini. Di kaleng itu lépeng dari kampung untukmu. Mari kita rayakan kemenangan ini dengan teman-teman.”

Maumere, 25 Juni 2009
Lépeng: lauk teman minum tuak.